Tampilkan postingan dengan label Padang Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padang Bulan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 08, 2012

Amazed

Beberapa hari ini saya menyadari akan adanya hal yang baru.


Setelah main game-game jaman dulu, mengulang kembali kejayaannya, menikmati tiap menitnya, melafalkan suara yang dikeluarkan tokoh-tokohnya dan melancarkan serangan dengan strategi yang biasanya, semua tampak begitu mudah.



Begitu biasa, begitu tidak menantang, begitu lurus tanpa belok-belokan.



Kemudian saya coba lagi dengan hal baru, dengan mencoba game dengan bentuk yang lumayan mirip, yang ceritanya masih beriringan dengan yang sudah saya hafalkan strateginya tersebut. Ketika suatu saat, ada yang menggelitik.


Sudah sekian belas jam saya memainkan game ini, tapi tetap tak mengalami perkembangan yang diinginkan. Saya terus merasa tertantang, bersemangat, merasakan mata yang kembali berbinar-binar bila ada sesuatu hal yang baru.
Padahal hanya satu yang dilakukan, melakukan hal diluar yang biasa.

Tadi pagi ini, semuanya kucoba demikian.

Sengaja tidur pada pagi hari (yang mana malah memimpikan hal yang bagi saya agak “menyeramkan”), sengaja meninggalkan flashdisk di meja, sengaja menghindari makan siang karena kesempitan waktu, sengaja mengambil nomor urut satu pada saat presentasi, memberanikan diri untuk mendebat hingga menyayangi dia berbelas-belas kali lipat dari biasanya.

Oiya, laptopnya habis rusak, sekalinya dibenerin, minta di-install ulang sekalian. Sekalinya diinstall ulang, eh, ganti penampilan. Jadi tambah ganteng deh tuh si laptop putih, walaupun agak overload. :D

Dan hasilnya mengejutkan.

A jolt of surprise striking my vein over and over!
Bagai kesetrum!

Hal ini pula yang kurasakan saat mencintaimu. ;)

Menebak-nebak apa yang mengganggu hatimu, menerbitkan tawa di bibir tipismu – yang secara langsung memicu senyumku, mengayunkan lenganmu dengan irama tertentu, menggamit tanganmu erat – yang kamudian kau lepaskan hingga mendengarkanmu.

I am constantly amazed by you. :x ;)

Without wax,
:D

P.s : Hei, padang bulan benar-benar membuat wajahmu merona ya?  :")

Selasa, Desember 06, 2011

Semalam

Terlalu simpel dilalui.

Kulalui sebuah lingkaran di depan kampusku. Sekali. Dua kali. Kali ketiga kuputari lingkaran itu, tanpa arah. Kemudian ada seseorang yang berteriak di samping jalan.

"Mas! Minggir!"

Suara itu begitu bising, kebapakan tapi belum bisa disebut tua. Menyegarkan tapi bukan segelas es jeruk.

Hal terakhir yang ku tahu adalah ketika sapaannya melepaskan jiwa yang mengontrol raga. Serasa diguyur air dingin langsung dari kulkas rumahan milik ibumu, tanpa kau perdulikan air yang mengalir, menjelaga ditangkupan tanganmu.

"Anda begitu beruntung, Mas", senyumnya terkembang. "Dirinya begitu indah, jangan dilukai ya."

Pertanyaanku mengembang lebih cepat dari yang kuinginkan, mataku melirik seseorang yang sedang duduk di belakangku, di boncengan. Kutemukan matahari di sana, di matanya yang berbinar-binar. Kepalanya ia sembunyikan pada tudung jaket abu-abu bercorak merah.

Kutiupi tangkupan tanganku sendiri. Mengisyaratkan ketidakmampuan otakku menerima segala hal begitu aneh, begitu cepat, begitu masif.

Namun begitu positif.

Bapak itu berlalu, meninggalkanku. Meninggalkan lampu kota yang mendadak temaram lalu menggelap. Meninggalkan diriku yang berkaca pada kesendirian, pada diam. Suasana yang tentram, dengan pekatnya kegelapan yang menjilat jalan aspal, kesunyian, kerapuhan dan bunyi weker.

Tunggu, bunyi weker?

Kubuka mata, kupukulkan diri pada kenyataan. Kulihat sesuatu yang meraung-raung. Kusentuh dia dengan lembut. Kupandangi tanganku yang memutih, kekurangan darah merah. 

"Aaaa, tertidur ternyata..."

Tidurku dalam posisi terduduk, memangku sebuah handphone bercorak merah-biru. Memangku sebuah harapan.
Ada tiga buah pesan singkat bertengger di sana, menunggu untuk dibuka.
Dari tiga orang yang sama dengan kata awal yang sama, namaku. :)

Senyumku merekah. Senyum yang biasanya terpicu oleh senyumnya.

Alhamdulillah, kupu-kupu di perutnya tak lagi berterbangan. Kupu-kupu itu membuatnya terduduk, terkunci dalam diam. Namun, ia tetap tertawa, ia menghiburku..

Mataku belum terbuka sepenuhnya, nyawaku masih belum menancap raga. Suatu hal yang kuyakini pagi itu adalah...

Ia begitu mengkhawatirkanku, sebagaimana aku mengkhawatirkannya.

:D

Minggu, Agustus 08, 2010

Padang Bulan dari Semburat Maghrib

Semua orang bilang padaku bahwa yang namanya jatuh cinta selalu indah.

Seindah sebuah berita dimana kau akan masuk ke dalam sebuah koran terkenal seantero jagad atau kau memenangkan sebuah mobil dua belas kali berturut-turut.
Seindah asa yang kau minta bila telah terjawab.
Seindah ukiran yang tiap pengukir usaha tuk buat dalam karyanya.
Seindah usaha yang kau buat untuk tersenyum meskipun semua ucapkanku tak kau mengerti dan tak lucu.
Seindah sesuatu di pelupuk matamu, yang berlinang jatuh saat kau ingat hujan di tanggal ganjil itu.
Seindah tawa yang semua orang lakukan di depanmu ketika kau bersedih.

Namun menurutku, hal itu hanya cukup membuatmu saja yang tergerak.
Bagiku, obrolan itu hanya ucapan anak-anak yang tak lebih dari omong kosong yang jujur.
Yang menerbangkan tiap kupu-kupu kecil di otak mereka ke angkasa, lalu menembus awan untuk kemudian melayang-layang.

Yang kutahu, yang selalu ingin kutahu dan seharusnya sudah kutahu pada pucuk air mata milikmu
Adalah padang bulan malam ini. Padang bulan yang mengirimmu melangkahkan kaki mungilmu.

Matamu terkadang menunduk malu, berkedip tanda tergetar hatimu untuk mencari tahu, rahasia alam apalagi yang akan kuungkapkan padamu dibalik misteri ini, karena yang paling kusuka adalah saat kau berdecak kagum, baik itu dibuat-buat maupun bukan, karena yang kutahu, saat kau tersenyum – senyum apapun itu – kau akan berubah menjadi merah. Semerah coretan matahari pada dentang sore, semerah semburat mega di langit biru dalam transpos hari ini, semerah…..tomat itu.

Sekarang aku menunggumu, menunggu dalam indah hati, dalam riang halus lembut tanpa mencoba berdosa karena pengharapanku melebihi buaianku. Semburat mega masih tersisa, kutunggu kau sembari duduk diantara pelukan biru langit malam yang mulai menghantui sosokku. Aku timbul tenggelam. Timbul saat sesosok wanita datang menghampiri. Terlihat putih, terlihat kilaunya. Sangat putih, sangat bersih. Serba menunjuk kalau itu kau.

Dan aku tenggelam kembali.

Ketika sosok wanita yang tak sengaja kuamati lekat dari kejuahan itu bukan lagi kau. Hanya imaginasi dari visi yang membuatnya menjadi kau. Menjadi sosok bidadari dengan kekuatan manusia miliknya. Menjadi seutuhnya kamu. Dengan senyum malu-malu yang sedikit menampakan sederet pasukan putih dalam lingkup peluk bibir tipismu yang indah. Tak enggan kuteliti lagi wajahmu dan aku menemukan keajaiban dunia nomor tujuh. Kemerahan dalam – atau luar ? – pipmu yang menenggelamkan aku dalam sebuah dimensi baru yang tersemburat dari dalam lekuk wajahmu.

Dimensi itu mencekatku, membuatku menggelinjang seketika, menamparku bolak-balik, menjungkirbalikkan nyawa yang hanya setengah sampai di tubuhku. Segera kusadar, bahwa maghrib itu aku terbawa kedalam dimensi lain yang membuatku hampir melayang ke dalam konstelasi zodiak planet lain. Aku galau.

Semua karena sosokmu yang…tiba-tiba terlihat nyata. Karena dengan tiba-tiba pula datang kehadapnku. Mencuri kembali hatiku. Dan seraya berkata, sebuah perkataan yang memuncakkan doa keselamatan abad ini, “Assalamu’alaikum, Andika…”

kau adalah La Niege au Sahara.

Tiba-tiba aku refleks menyubit paha yang kusembunyikan dibalik sarung ini.

Aku terbelalak kembali ke dunia.

Semuanya nyata. Itu dirimu yang kembali ke dunia.

Kukejar kau kedalam masjid. Kuceritakan tentang kau kembali pada jagad raya, nanti.