Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 03, 2014

EarChestra Sepulangnya

Setelah lama tidak menyapa dan menyalakan lentera dari blog yang hampir mati ini, kucoba menyiram pandanganku agar meresap ke segala arah, segala penjuru. Tidak, hal ini tidak ada hubungannya dengan gemuruh di dunia luar jiwa yang mendesak dan memaksa untuk meledak. Kenapa kuputuskan untuk tidak berhubungan? Karena ledakannya mengancam jiwa, menghancurkan cermin dan topeng yang kubuat selama ini. Lentera ini menerangi semua, menyeruakkan bebauan yang kuanggap teman pada beberapa tahun yang lalu. 
 
Api dari lentera menyambar ke atas kepala, menari tanpa membakar rambutku sendiri, lalu menyalak keras ke sebuah sudut. Bukannya panas yang kurasa, namun jilatan yang terus saja merayap lambat. Jilatan itu terasa sedikit sendu, sedikit kelabu. Benar saja, sejenak jilatan ini telah memakan bulat-bulat sebuah benda yang kusimpan erat dalam koper. Koper yang kombinasinya saja mungkin sudah kulupa. Koper yang usang, yang berbulu warna beludru. Yang jika kau ketukkan kemoceng melewati sepertiga mili diatasnya akan beterbangan debu-debu kenangan bak kunang-kunang yang terusik. Bagai kawanan ikan barakuda, debu kenangan menutupi pandangan sejenak, lalu terhunus api.

Api ini terus menyalak kencang, ia hangat namun bergumuruh. Cukup mengganggu dan menggetarkan ruangan ini, pikirku. Sesaat berikutnya, tepat ketika ingin kucuba melemparkan diriku ke dalamnya, api ini padam seketika dan menyisakan sebuah permen. Permen gulas, permen yang asam dan manisnya bergumul di lidah bak pemain gulat amatiran. Berderu kesana kemari tanpa arah, hingga akhirnya menjinak. Berubah menjadi dua kucing jinak. Saling menggoda satu sama lain, berguling sesaat, diam. Terus saja begitu hingga rasa ini berubah kelam, tak berbekas.
Api ini menyisakan sebuah senyawa, yang tidak stabil, yang memaksakan diri menyeruak ke telinga. Menembus segala macam batas duniawi, surgawi, hingga virtual yang cukup tidak awam buatku. Seberapa menyebalkan rasa ini, kautanya? Semenyebalkan cengkeh yang menghiasi kue-kue nastar tanpa dosa, menyembunyikan duri yang kejam dalam balutan legit dan renyahnya campuran tepung, keju, dan selai nanas.

Kuambil napas sebentar. Kusesap ludah di lidahku hingga kembali ke alam nyata.

Kudapati ragaku ada di atas kasur warna merah, berbau kusam, bernafaskan debu, lengkap dengan jaket dan segala macam perangkat perang yang biasa kubawa ketempat kuliah. Mataku nanar memperhatikan sekeliling, layaknya penari Bali yang mengincar wisatawan yang tidak terpukau akan gerakannya. Bola mata ini mencari bagai tiada tempat berlabuh, mencari tanpa tahu apa yang akan dicari, bernapas tanpa yakin meresap udara, mencecap tanpa yakin ada rasa, berdegup tanpa yakin memompa darah, menapak tanpa pengetahuan akan daratan.

Apa yang sedari tadi akan kulakukan?

Kuamati handphone tanpa lekuk, berbaring lemah dan berkedip, menggonggong minta diberi makan. Kulitnya yang gelap namun licin melambangkan keangkuhannya untuk selalu dibelai, diurus, dipaksa update status dan berkicau di dunia virtual.
Tampak di sana ada beberapa kata dari pujaan, yang mengisi relung hati tanpa sisa. Kuikuti apa kemauannya, demi segala apa yang baik untuknya. Kudoakan agar lancar.

Setelah itu, mata ini menerkam mp3 cap sambel yang suaranya cukup sember, yang kupaksa kupegang telaknya, menyanyikan beberapa macam lagu yang ingin kusuka. Namun hari ini, ternyata lain. Jempol bergerak tanpa irama, beberapa tulisan di layar ia pencet sesuka, lalu muncul sederet lagu. Eksekusi dilakukan tak sampai lima hitungan anak PAUD untuk memulai sebuah alunan lagu pertama. Telingaku tidak mendengar ucapan komandannya, ia membuka gerbang pertahanannya dan memasukkan sederatan suara ke dalam kepala.

Suaraku meronta menggema di dalam sukmaku sendiri. Aku diperbudak diriku. Dan lagu mulai bergulir tanpa dapat dihentikan kembali.

EarChestra pertama berdengung menghujam gendam telinga, The Wanted – Walks Like Rihanna. Seperti orkestra yang pertama, beberapa bayangan langsung mencuat keluar dari otak.

Adalah seorang wanita yang muncul pertama, yang sebenarnya biasanya saja, yang ternyata memikat dengan segala rupa dan segala rasa. Kemudian bayangan bergerak ke seorang pria, ia lusuh, dekil, berdebu, dan hanya mampu melihat wanita ini bergerak. Hingga akhirnya berita menyebar bahwa wanita ini berhasil menarik jiwa-jiwa lelaki di sekelilingnya. Pria ini tak bisa memungkiri jika ia tertarik, ia akan lakukan apa saja untuk bergerak mendekati wanita ini. Apa saja.

Apalah bukti ia tertarik? Ada rasa tak tentu yang pria ini rasakan jika wanita tersebut ada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya. Ada degupan dihatinya yang tak bisa ia bendung, bagaikan letusan kembang api yang terjadi di setiap malam tahun baru, atau pembukaan suatu acara perlombaan agung, bertubi-tubi dan berkali-kali.

Ketika bayangan ini menari-nari, EarChestra kedua menggelinding, mengantam bayangan tersebut. Dimulailah lagu kedua, Pink - True Love (ft. Lily Allen).

Bayangan ini meloncat kembali menggambarkan kedua figur pria dan wanita. Sang wanita berdengung tidak jelas, menuntut, memaksa, menagih, mencaci, meludahkan hingga memuntahkan berbagai macam kata beracun yang hampir seluruhnya menjadi racun. Memakan setiap bagian dirinya sendiri dan lelaki tersebut. Pria tersebut melindungi dirinya dengan menutup telinga, mirip seorang anak kecil yang takut akan kilat dan suaranya yang bergemuruh. 
 
Pemandangan ini memuakkanku, meski kucoba memejamkan mata dan mengerjap berkali-kali, hal ini tidak menghilang begitu saja. Hanya gumaman dari lelaki ini yang terlihat jelas, membuka dan menutup mulutnya dengan cepat, entah ingin berkata atau bergidik ketakutan. Sekejap firasat muncul dalam benak pria ini, untuk membalas, untuk menghimpun tenaga yang ada dan sekejap mata mengembalikan semuanya dalam satu kilatan tamparan penuh energi kepada wanita ini.
 
Namun, hanya wanita ini yang menekannya begitu keras. Hanya wanita ini yang mengacaukan segala macam sistem yang pria ini buat dan membuatnya macam komedi putar di arena bermain anak-anak di suatu sudut mall di kota. Hidup pria ini akan menjadi kelabu tanpa wanita ini. Pikirnya.
 
Tiada orang lain, selain wanita ini yang memaksa seluruh impuls di otak untuk menggerakkan dua batang tangan miliknya hingga melingkari, memeluk, tubuh sang wanita. Di saat dan waktu yang sama pula, terdapat impuls yang menggelitik dengan geli untuk menggerakkan kedua bilah tangan tersebut, melingkar pula, namun ke batang leher si wanita.
 
Menyebalkan!
 
Ungkap pria ini, namun tidak bisa ia pungkiri bahwa terdapat semburat cinta diantara pipinya yang bersemu merah.
 
Ia menyadari bahwa dirinya sungguh-sungguh mencintai dan membenci wanita ini secara adil, dan entah ada iklim apa yang memutar balikkan seluruh logika di dalam sel-sel kehidupannya, pria ini menjadi berpikir bahwa wanita ini adalah orangnya. Seseorang yang nantinya akan diajaknya berdua berjalan di altar pernikahan. Yang akan mengiringi tiap hembusan nafas hingga salah satunya berhenti, atau tersedak tutup botol sambal, yang manapun yang duluan. Pria ini berkali-kali menanyakan kewarasan dirinya, "Kenapa aku masih bertahan?" atau "Kemana aku harus pergi?" tanpa tahu arah dan tujuan lain, hanya karena ia cuma mengenal dan memahami wanita ini.
 
Yang manapun ia yakin, bahwa wanita ini adalah seseorang yang ia tunggu lama. Seseorang yang memang muncul sekali dalam kehidupan untuk membersamainya. Seseorang yang meski ia benci setengah mati dan ia sayangi setengah hidup, wanita ini adalah cinta sejatinya. Karena tiada hal lain dan orang lain yang dapat melukai hatinya, separah dan sekejam cinta sejati.
Diakhir bayangan, pria ini mengajarkan kepada tersebut, perlahan-lahan. Bagai seorang guru yang dengan sabar menuntun muridnya untuk mengeja sebuah kata, ia mengenalkan sebuah kata paling ampuh, obat dari segala kata beracun yang ia muntahkan di awal, yaitu romansa.
 
Lalu tetiba saja sendu. Mataku yang mengerjap ternyata menangkap kedipan kode tertentu. Sebuah tanda bahwa mp3 merek sambal ini mengkhianati tuannya. Ia bergerak perlahan menuju nirwana pada nyawanya yang kesekian.
 
Menuntut isi nyawa kembali, pikirku.
 
Kututup EarChestra ini dengan doa. Doa yang kupanjatkan agar dirimu...
 
...yaaaa, kau tahulah.
:D

Sabtu, Februari 16, 2013

Konslet

Yang bisa manusia lakukan hanya jujur, jujur agar dimengerti, dipahami dan diperlakukan selayaknya manusia. Kalau sudah menipu, bohong gitu...apa yang bisa diharapkan?
-Anonim

Beberapa waktu ini, saya sering sekali konslet.

Antara yang ditanamkan di otak, dengan yang dilakukan oleh fisik seperti terputus. tersambungkan dengan gerakan magis, melewati pintu teleportasi pada sambungan lain.

Suatu malam, saya mendebat diri saya sendiri. Diri lelaguan semangat yang dibunyikan saat "meditasi" dalam game Perfect World, ribut-ribut televisi setelah tengah malam dan rintik hujan yang merambat-rambat masuk untuk menikam telinga dengan anggun. Saya duduk, sendiri.

Tentu saja.

Saya belum beristri. Belum ada orang yang menyeduh kopi atau teh di pagi hari kemudian mengipaskan-ngipaskan wanginya, membuatnya asapnya hinggap di hidung, berkicau-kicau kecil. Kemudian memastikan nyawaku ditiupkan kembali ke dunia dengan senyumnya yang merekah, mengalahkan merekahnya kebun tulip di Belanda, apalagi merekahnya bunga teh di Pagilaran. Lalu dengan hati-hati menidurkan kepalanya di dada, menguatkan harum yang samar-samar tercium, yang mengintip lewat sela-sela kerudung yang dikenakannya saat menaklukkan dunia.

Di saat pagi, saya terasa seperti orang paling melankolis di dunia. Inginnya hanya menangis di sela-sela sujud.

...kembali pada pertapaan saya.

Saya mulai lepas kendali, selalu aja ada yang membuat tubuh saya lalai mengontrol raga sendiri.
Kemarin saya sempat kecelakaan, beberapa saat yang lalu jatuh dari motor, beberapa kecelakaan kecil trus menghantui...
Terkadang saya mengandaikan, adakah malaikat yang mengintip dari jauh sana? Mengira-ngira saat yang tepat untuk memberikan tiket menonton dunia?

Sarap.

Ini  udah ngelantur, ngomongnya nakutin lagi. *nampar pipi*

Jujur, saya jadi sering banget ngaret. Ada dia yang selalu (bahkan mungkin sudah lelah sampai bosan) mengingatkan, menaruh harapan tinggi, memaksa, sampai melakukan berbagai cara untuk membuat saya kembali pada track yang benar, dan dia tidak pernah menyerah sedetik pun.
Seseorang yang menjadi panutan saya selama di kampus. Matahari kedua di siang hari.

...dan saya terlelap...

Sambil berharap untuk selalu diberikan mimpi yang menghibur dan kenyataan yang mengindahkan hati. Selamanya.

Jumat, Desember 28, 2012

After Rain : Melodrama

Saya mengamati. Melihat hujan selalu turun dari atas kebawah. Tak ada yang meloncat-loncat gembira, memantul-mantul bagai tak kehilangan energi, lalu memecah kembali menjadi pecahan titik-titik air kecil yang berlompatan. Sedikit diantaranya menempel mesra di potongan bawah celana jins biru berwarna kusam milikmu, yang lainnya melompat lebih tinggi lagi, untuk terpendar menjadi jutaan warna tak terdeskripsikan.

Entah kenapa, saya sering tenggelam dalam lamunan. Beberapa kali terlalu dalam, kalaupun tak muncul, pastilah karena di sekitar kelenjar limfa di dekat leher sudah muncul insang.

Pelita dalam jjiwa masih benderang, yang selalu menghangatkan, dia, masih tetap berada di sisi. Meski jok motor beberapa kali ada spasi tanpa alasan, tapi cukuplah untuk menghangatkan. Terkadang saya yang gemas sampai berkata, “Tau gak bedanya karung beras sama orang? Kalo karung beras gak bisa pegangan, kalo orang bisa pegangan.” Dan dia tertawa. 

Saya mempertanyakan alasan spasi ini pun sepertinya percuma, dua kali saya bertanya, dua kali pula saya berhasil digantungkan tanpa alasan.
Digantung.

Mirip seperti tukang foto, yang dengan memberikan aba-aba, “Satuu… Duaa… Tiiiii….dak jadi..” Lalu berlari.

Ah sudahlah, mungkin saya yang sedang terlalu sensitif untuk tidak paham. Berkali-kali dia juga protes, “Kamu tu lama nyambungnya.” Alih-alih menjelaskan dengan halus seperti dalam MoU, ini sambil setengah sebel. Kutanggapi saja dengan tawa. Lha wong emang baru gak konek.

Yah, beginilah. Jarang ada hal yang harus diupdate di sini. Sekalinya pengen nulis, ada saja ingatan yang kabur, terkadang melantur hingga terbang jauh setelah merebahkan badan di kasur. Setelah dicoba ditarik kembali dari awing-awang, tak ketemu.
Lalu akhirnya duduk saja, menyerah.

Dia juga merindukan saya yang menulis di blog ini. Namun sekarang kalimat-kalimat gemas yang dengan unyu dia ungkapkan untuk menyemangatiku menulis agaknya sering lupa diucapkan. Saya yang abstain menulis, diikutinya, sekarang blognya juga kosong. Kosong update maksudnya.

Tapi memang tak bisa dipungkiri, berkali-kali kami berdua sering menghabiskan waktu di kampus, terkadang kampus tetangga, untuk menghabisi nyawa Bab-Bab penuh tanda tanya yang kami selami bersama. Kami saling menjadi tutor sekaligus murid. Sharing, diskusi, sampai ngeyel-ngeyelan sering terjadi diantara kami berdua, semuanya berhenti hingga ada yang mengalah, atau sampai menemukan teori yang menjadi pemecahan diantara kami berdua. 

Tak ayal, salah satu diantara kami terserang kantuk yang amat sangat lalu gugur, bagai pengawal yang setia, kami saling berjaga. Tugasnya cukup simpel, ketika yang satu tumbang, yang terjaga wajib mempelajari hingga mendalam untuk kemudian mengajarkan kepada yang tumbang. Begitu seterusnya.

Yang menghentikan kami hanyalah gelap malam, atau telfon dari ibunda tercinta, atau perut yang bergetar-getar bagai dering handphone nokia murahan tahun '98.

Yak begitulah, oiya, sedikit berita, sekarang saya sudah jarang ketiduran sehabis Shubuh, ada jam beker baru warna biru yang mendengking-dengking hingga ibunda terpaksa berteriak panjang bagai serigala untuk menyuruh saya mematikan weker.
Jadi, yaa terjaga sudah.

Rabu, Februari 01, 2012

This is should be a teaching post...

Pengennya sih daritadi posting tentang kebaikan hati yang mengorbankan - I swear to God, if my friend knew, they'd be killing me - kebaikan hati buat beli buah naga, buat workshop-nya orang Ceko yang kebetulan datang ke UGM (kayaknya temennya mas Akbar). Bule ini sih niatnya mau ngajarin gimana caranya bikin semacam "mutiara", itu lho semacam jelly kecil bentuknya bulet yang mirip jenang monte.
semacam itu lah bentuknya

Dasarnya gatau apa yang dimaksud sama bule, kita semua nurut ajaa disuruh ngapain-ngapain, ngelarutin CaCl di dalem air lah. Apa gitu lah...
Sampai akhirnya ada beberapa yang gagal, ada yang salah sama membrannya..membrannya gampang banget pecah..

Then, ada temennya mas akbar, sebenernya lupa kenalan namanya...mencetuskan ide brilian sepanjang masa...pake wine.
Dalam hati udah pengen loncat! At last! Wine, drinking wine for science!

As fas as I know,  minum anggur itu haram...that's the basic.
Tapi di mikrobiologi, fermentasi selalu bisa dijadikan alasan, :p
Sampai suatu ketika, ada yang nyeletuk, "Kalo wine-jeruk (seriuosly, dude...JERUK!) ini keluar sekretaris bersama Mikro, jadi haram!"
:D

Oke, pembuatan caviar (Aaaah, iyaa, namanya caviar!) yang dicampur sedikit wine tercetus dan dilaksanakan dengan gegap gempita...akhirnya semuanya nunggu dan...berhasil!
caviar...it's like bursting wine! :p
yang versi warna
Oke, di contohnya ada warnanya sih, tapi yang kita buat udah mirip kok, cuman warnanya bening..
kurang lebih, kayak gini lah.. :D
 "Selamat teman-teman, kalian telah merasakan makanan yang paling sensasional! Di tempat asal kami, kami harus memesan tempat selama berbulan-bulan sebelum makan caviar ini dan membayar mahal untuk beberapa sendok saja...Kalian beruntung!"

Anak-anak microzoned langsung cengo..

Ku coba makan pake keju, "...Mmm, it taste good!"

"Yep, that's how we eat it back in Czech! With cheese!"

perasaanku kayak..hey, I'm a natural born European... :p

The point of this event is..

Jadi gini kalo ada orang bule atau seseorang apapun yang beneran memegang kontrol untuk sebuah kegiatan yang kamu ikuti, beranikan dirimu buat mengajukan diri..melakukan hal yang kamu kira bisa berakibat positif bagi semuanya.
Dalam hal ini, beliin buah naga.

Meskipun aku sama Awi (salah satu anak microzoned) harus capek-capek gantian nyetir motor ke SuperIndo JaKal...telat dan hampir gatau cara buat caviarnya..

..tapi kami mendapat hadiah yang setimpal..we got to keep the change. Kembaliannya buat kita. :D

Pertamanya kita dikasih uang seratus rebu..tapi ternyata harga empat buah naga cuman 35 rebu..jadi yaa..kembaliannya 65 rebu.
:)

Alhamdulillah.

Oiya, further shocking news, ternyata 3 jejaka SekBer Mikro, (mas mimin, mas miftah sama kang punta) maen-maen ke Bandung. Gak ikutan kuil..
Such weird friendship there...mueheheh.. :D

Senin, November 14, 2011

Teriak!

UTS udah seleseeeeeee......!

#bukannya dari kemaren, Ndik?

Iyasih, telat emang, tapi entah kenapa, semangat UTS kayak masih ngganjel, masih pengen balas dendam sama Dasar-Dasar Manajemen, gara-gara yang diharapkan tidak selaras dengan kenyataan (kalo di kuliahnya sendiri, keadaan kayak gitu dinamain "masalah", ada kegalauan diantara hal yang ada dan impiannya, emang, emang harus ada galau di situ..dosennya yang galau..muahahah  :D ), masih kelewat seneng sama soal-soal yang kimia yang menantang, yang bikin nervous bangeeeeettt gara-gara kepikiran pernyataannya Pak Utoro (dosennya) yang bilang, "Kalau ada sebuah pernyataan yang tidak menjawab pertanyaan saya, tidak akan saya nilai!"

Euh! Masih merinding euy!

Dan seketika itu pula semuanya bergemuruh, ada teriakan anak muda yang melolong di tengah timbunan persamaan gas punya Pak Utoro...

...oke, ternyata malah lebay jadinya.

Salah satu efek samping UTS adalah dampaknya buat kamar. Hampir selama tiga minggu, kamarku kayak....kapal pecah.

Kapal pecah, ketabrak truk, keangkut pesawat, terjun payung, ketancep piramid, ketendang sphinx, terjerumus air terjun Niagara, dirubung semut, dibanting sama pegulat, kena banjir bandang, keserempet motor, kelewatan pawai, kerubuhan gajah, kena angin topan dan terakhir buat belajar UTS sama orang paling semrawut sepanjang masa.
Ya jadi gini deh.
Tempat kejadian perkara
Salah satu tersangka
Udah kayak sarang laba-laba


Oiya, belum lama ini Hari Pahlawan, sebuah hari yang membuat kita mengenang atau setidaknya mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keselamatan, terhindar dari kekurangan dan dimuliakan di mata Allah SWT.
:D

Tanggal 10, pagi hari, matahari baru panas-panasnya menyengat kulit, tega ya matahari tuh? Aku mampir di rumah temen ibuk di daerah Pathuk, beliin pesenan temen, buat oleh-oleh pas mudik katanya. Seketika itu, liat kejadian. Liat anak-anak kecil lari-lari, kear-kejaran.

Ternyata mereka main perang-perangan.

"dor!" "dor!" "DUORR!", yang pake baju merah putih nembak gitu.

"dreddreddreddrederedererererererrrdedredrdrerd" ---> ini suara tembakan apa orang keselek biji salak, Dik?
temennya yang pake baju ala tentara amrik nembak jugak.

Eh, yang baju merah-putih protes, "Kok kamu gak mati?"
"Aku kan pasukan khusus, elit, kamu kan cuma tentara biasa, ya aku gak mati lah!"
"Kok gitu, ya kamu harus mati dong, jujur kalo mainnn...!"

Wueh, anak kecil segitu tau tentang kejujuran? Hebat bener pendidikannya.

"Emang kamu punya senjata apa? Kok aku bisa mati?", tanya yang pake baju amrik.
"ROKET PANCASILAAA!! DUERR!", jawab yang pake baju merah-putih.

Eh?

Umur segitu tahu bisa bangga sama Pancasila?

Sementara aku yang segede gaban gini, yang tiap hari senin pagi dikuliahi Pendidikan Pancasila cuma bisa teriak-teriak atas nama kelima sila-nya ketika saya melakukan sesuatu yang benar, tapi ditentang.

Calon pemimpin itu emang terdidik dengan cara yang spesial ya?

:D

Selasa, November 08, 2011

Ingat kan kaliaan? :D

Saya mengamati dan terus mengamati beberapa Blog teman-teman, baik yang sudah lama diikuti, juga barusan diikutin, (halo Nungki sama iYan, hehe) kebanyakan dari mereka menyuntikkan konten-konten islami dalam kehiduan mereka dibalik keyboard (masalahnya ini nulis di Blog, sob. Kalo di koran kampus, berarti dibalik pena lah). Saya selalu mencoba mengimplemetasikan nilai-nilai kehidupan islamik yang saya tangkap setiap harinya, tapi yaaa, namanya aja masih belajar, ilmunya masih dikit, meskipun belum setinggi mereka, meskipun sama-sama belajar, takutnya ada yang salah jugak. Diriku begitu isin (halah, "malu" maksudnya) kalo nanti ada salah-salah kata dan pengartian, malah jadi berabe.

Jadi, maaf ya, sob. Buat yang kemaren rekues konten islami, nanti masih dicerna dulu, ilmunya cetek, euy. Mueheheh.  :D

>> Ndik, kenapa buru-buru posting? Ngebet amat, kayak mau ngajak kawin aja...

Eits, bukan gitu, bukan masalah kawinnya, tapi masalah tahunnya nih. Kan saya (halah, bahasamu, Ndik. Biasanya kan pake lu ato gua?) baru-baru ini ulang tahun, iya Alhamdulillah, it's been a hectic, romantic, blissfully, great, colored, cheerful, problematic, practical, egocentric, jumpful, hebring, delicious and delightful years!

Setahun dalam satu lingkaran adalah mati, yang diharapkan adalah kedalaman dari lingkaran tersebut, kan?

Weits, sore ini, iya, ini sore kok. Tanpa sengaja, ketemu lagu yang bikin merinding disko di sela-sela istirahat Ashar.

Gini lagunya : 
Ono tangis kelayung layung, tangise wong kang wedi mati
(Ada tangis meraung-raung, tangisannya orang yang takut mati)
gedongono kuncenono, yen wes mati, mangsa wurungo
(tolong dibungkus dengan kain, tolong dikunci, kalau sudah mati,, waktunya bermurung diri)

ditumpakke kreto jowo, rodane roda menungso
(dinaikkan kereta jawa, rodanya roda manusia)
ditutupi ambyang ambyang, disirami banyune kembang
(ditutupi dengan kain, disirami air bunga)

duh Gusti Allah , Kulo nyuwun pangapuro
(ya Allah, saya minta maaf)
neng sayange wes ora ono guno... 
(tapi sayangnya sudah tidak berguna)
 

Judulnya Kelayung-Layung, maksudnya meraung-raung.
Ini lagunya tentang orang yang takut mati, tapi akhirnya mati.

Rekomendasi dari seorang temen, semoga dirinya juga diingatkan dengan diperdengarkannya lagu ini.

Aamiin.  :D

Sabtu, November 05, 2011

Ngeluh mulu, sob?!

Sekarang hari Sabtu, harinya orang sibuk menghadiahi diri mereka masing-masing sebuah applause, sebuah penghargaan atas kerja keras mereka seminggu ini dengan mengistirahatkan pikiran yang lembut di atas segumpal kasur yang empuk.

Kita selalu mendorong tubuh kita melakukan hal yang melampaui comfort-zone kita. Kata orang, it's good to train you, you could be better in some ways. 

Faktanya, kita melewati sebuah sesi paling menurutkan semangat sepanjang sejarah manusia. Mengeluh.
Sebenarnya, manusia bisa terbang. Buktinya, pesawat tercipta.
Sebenernya, manusia bisa melihat hal paling kecil dari seluruh keunikan tata surya. Buktinya, mikroskop tercipta.
Sebenarnya, manusia bisa melampaui kecepatan hewan. Buktinya, mesin tercipta.
Sebenarnya, manusia bisa menembus langit, menghambur bumi, mengoyak langit, membelah bulan jadi dua, melompat-menggapai langit dan akhirnya mengubur diri sendiri.

Mereka tidak mengeluh, sob!
Mungkin mereka begitu depresi karena hal yang ada tidak sesuai dengan keinginan hasrat mereka. Tapi mereka tidak merengek, menyalahkan siapapun dan apapun (termasuk keadaan dan waktu).

Oke, I have my own image in this. He is Joker.
Ya, apa bagusnya Joker? Dia musuh, orang jahat yang selalu pake alat-alat usil "unthinkable" buat ngalahin Batman.

Dari sisi pandang saya, dia terlihat tidak pernah menyerah.
Culas, licik dan yang paling penting, punya seribu cara menghajar dengan lelucon.
Terlebih, dia selalu ketawa, freakishly-laughing though.

Maybe, he just....need a friend?

Senin, Oktober 31, 2011

Dilema Setengah Halaman

nyawa masih dimata
dengan sebilah cita
menebas setengah
halaman ujianku

sisip yang menyisip
sialnya harus tersisip
meski biduk telah sibuk bergosip
tak ada yang tercetak pada nasib

kecewaku sambil tawaku
karna kadang setengahnya masih
tertinggal, gantungkan aku
ketidakpastian bioteknologi

padahal Pertanian Hemat Energi!
bukannya pertanian tanpa tegangan tinggi
siapa pula orang gila yang
menanam padi dengan listrik?

GM Plant berkibas dengan GM Organism
General Manager-kah?
Gombal Mukiyo-kah?
atau Gundulmu Mlumpat?

iya, iya mungkin yang terakhir.
tapi tidak,

karena suara kedua yang menggoda nurani
nurani paling suci sedunia
ADALAH SETAN!

nasibku, di setengah halaman PIP-ku..

terdengar lecutan dari dalam diri,
"Diracun Sajalah!"

Bagai tikus antik,
dalam gedung antik
warna hijau
disamping kolam renang bundar

tertawa ketika melihat
seorang teman yang lupa nama
menuliskan jawaban cinta atas soal
dengan bangga

-andika yang dilema

Minggu, Oktober 23, 2011

CEPAAT!

"Cepet dong, Bos!"

"Salip kanan aja nih mobil, lambat banget!"

"Ini internet apa nenek gua sih, sob?! LAMBAAAT BANGET."

May all the guidance lie upon you all, fellas.
Amin.

Saya sekarang sedang di tengah jalan tol yang mobilnya sepi, yang motornya pun jarang, yang polisi tidur-nya udah bangun, terus makan di angkringan deket rumah kalian.

Oke, bagian polisi tidur yang jalan sendiri emang agak nakutin, sedangkan kita sering mengharapkan para polisi tidur beneran ketika baru bonceng temen dan kita nggak pake helm.

Aside from the sleeping policeman, we'll talk about speed, sugar.

Setiap manusia bergantung pada sesuatu hal, yang memacu mereka untuk mendapat semuanya. Padahal tangan mereka cuma dua, udah gitu kecil, hampir gak berguna pula, sedangkan kaki mereka juga hampir separuhnya lumpuh. Termakan zaman, terserap asam laktat yang mematikan gerakan tubuh.

Egoisnya, mereka semua kepengen cepet.

Padahal gak semua ditakdirkan untuk cepat, kan? Ibu mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari. Wine perlu fermentasi minimal semalam. Air perlu dipanaskan selama 10-15 menit agar mendidih. Proses pengenceran perlu waktu dua menit (minimal - tergantung konsentrasi). Ujian memerlukan waktu dua jam. Sholat juga butuh tuma'ninah.

Bayi yang langsung dilahirkan akan berupa gumulan darah atau kalaupun bisa langsung berbentuk manusia, pasti cacat. Autis-lah minimal.  :p

Wine yang langsung jadi selama 1 detik? Pasti banyak yang teler di pinggir jalan, di trotoar? Dan slogan "Got Milk?" bakal berubah jadi "Got Wine?"

Air? Sungguh sesuatu sekali. Air apaan coba?

Pengenceran? Yang ini masih mungkin sih,  :p

Bayangkan ujian dengan tenggat waktu 1 detik. Penjaga ruangan bakal digantung di ruang ujian. Mayat-mayat pengajar bergelimpangan di fakultas. Rektor bakal sembunyi di gorong-gorong jalanan, ditembaki hingga terluka, diseret keluar, direbut senjatanya yang berlapis emas, kemudian ditembak kepalanya. Bam! Headshot. (Ini ujian apa Perang di Libya?)

Saya diceramahi hingga lemas, hingga pusing, hingga jengah ketika kecil, di Masjid deket rumah. Karena saya telat sholat, tapi ngebut sholatnya. Katanya, after effect "sholat ayam" (karena gayanya mirip kalo ayam matok makanan, cuma 'clep!' udah gitu doang) bisa gak baik buat kesehatan. Bisa bikin impotensi pahala, kanker iman, serangan GALAU dan gangguan jiwa serta hidup di dunia.

Tapi ya, cepat juga gak masalah kok. Buktinya saya sedang internetan di "you-know-where" dan sedang loncat-loncat, akibat dari 1 MB/s.

Minggu, Agustus 08, 2010

Padang Bulan dari Semburat Maghrib

Semua orang bilang padaku bahwa yang namanya jatuh cinta selalu indah.

Seindah sebuah berita dimana kau akan masuk ke dalam sebuah koran terkenal seantero jagad atau kau memenangkan sebuah mobil dua belas kali berturut-turut.
Seindah asa yang kau minta bila telah terjawab.
Seindah ukiran yang tiap pengukir usaha tuk buat dalam karyanya.
Seindah usaha yang kau buat untuk tersenyum meskipun semua ucapkanku tak kau mengerti dan tak lucu.
Seindah sesuatu di pelupuk matamu, yang berlinang jatuh saat kau ingat hujan di tanggal ganjil itu.
Seindah tawa yang semua orang lakukan di depanmu ketika kau bersedih.

Namun menurutku, hal itu hanya cukup membuatmu saja yang tergerak.
Bagiku, obrolan itu hanya ucapan anak-anak yang tak lebih dari omong kosong yang jujur.
Yang menerbangkan tiap kupu-kupu kecil di otak mereka ke angkasa, lalu menembus awan untuk kemudian melayang-layang.

Yang kutahu, yang selalu ingin kutahu dan seharusnya sudah kutahu pada pucuk air mata milikmu
Adalah padang bulan malam ini. Padang bulan yang mengirimmu melangkahkan kaki mungilmu.

Matamu terkadang menunduk malu, berkedip tanda tergetar hatimu untuk mencari tahu, rahasia alam apalagi yang akan kuungkapkan padamu dibalik misteri ini, karena yang paling kusuka adalah saat kau berdecak kagum, baik itu dibuat-buat maupun bukan, karena yang kutahu, saat kau tersenyum – senyum apapun itu – kau akan berubah menjadi merah. Semerah coretan matahari pada dentang sore, semerah semburat mega di langit biru dalam transpos hari ini, semerah…..tomat itu.

Sekarang aku menunggumu, menunggu dalam indah hati, dalam riang halus lembut tanpa mencoba berdosa karena pengharapanku melebihi buaianku. Semburat mega masih tersisa, kutunggu kau sembari duduk diantara pelukan biru langit malam yang mulai menghantui sosokku. Aku timbul tenggelam. Timbul saat sesosok wanita datang menghampiri. Terlihat putih, terlihat kilaunya. Sangat putih, sangat bersih. Serba menunjuk kalau itu kau.

Dan aku tenggelam kembali.

Ketika sosok wanita yang tak sengaja kuamati lekat dari kejuahan itu bukan lagi kau. Hanya imaginasi dari visi yang membuatnya menjadi kau. Menjadi sosok bidadari dengan kekuatan manusia miliknya. Menjadi seutuhnya kamu. Dengan senyum malu-malu yang sedikit menampakan sederet pasukan putih dalam lingkup peluk bibir tipismu yang indah. Tak enggan kuteliti lagi wajahmu dan aku menemukan keajaiban dunia nomor tujuh. Kemerahan dalam – atau luar ? – pipmu yang menenggelamkan aku dalam sebuah dimensi baru yang tersemburat dari dalam lekuk wajahmu.

Dimensi itu mencekatku, membuatku menggelinjang seketika, menamparku bolak-balik, menjungkirbalikkan nyawa yang hanya setengah sampai di tubuhku. Segera kusadar, bahwa maghrib itu aku terbawa kedalam dimensi lain yang membuatku hampir melayang ke dalam konstelasi zodiak planet lain. Aku galau.

Semua karena sosokmu yang…tiba-tiba terlihat nyata. Karena dengan tiba-tiba pula datang kehadapnku. Mencuri kembali hatiku. Dan seraya berkata, sebuah perkataan yang memuncakkan doa keselamatan abad ini, “Assalamu’alaikum, Andika…”

kau adalah La Niege au Sahara.

Tiba-tiba aku refleks menyubit paha yang kusembunyikan dibalik sarung ini.

Aku terbelalak kembali ke dunia.

Semuanya nyata. Itu dirimu yang kembali ke dunia.

Kukejar kau kedalam masjid. Kuceritakan tentang kau kembali pada jagad raya, nanti.