Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 16, 2013

Konslet

Yang bisa manusia lakukan hanya jujur, jujur agar dimengerti, dipahami dan diperlakukan selayaknya manusia. Kalau sudah menipu, bohong gitu...apa yang bisa diharapkan?
-Anonim

Beberapa waktu ini, saya sering sekali konslet.

Antara yang ditanamkan di otak, dengan yang dilakukan oleh fisik seperti terputus. tersambungkan dengan gerakan magis, melewati pintu teleportasi pada sambungan lain.

Suatu malam, saya mendebat diri saya sendiri. Diri lelaguan semangat yang dibunyikan saat "meditasi" dalam game Perfect World, ribut-ribut televisi setelah tengah malam dan rintik hujan yang merambat-rambat masuk untuk menikam telinga dengan anggun. Saya duduk, sendiri.

Tentu saja.

Saya belum beristri. Belum ada orang yang menyeduh kopi atau teh di pagi hari kemudian mengipaskan-ngipaskan wanginya, membuatnya asapnya hinggap di hidung, berkicau-kicau kecil. Kemudian memastikan nyawaku ditiupkan kembali ke dunia dengan senyumnya yang merekah, mengalahkan merekahnya kebun tulip di Belanda, apalagi merekahnya bunga teh di Pagilaran. Lalu dengan hati-hati menidurkan kepalanya di dada, menguatkan harum yang samar-samar tercium, yang mengintip lewat sela-sela kerudung yang dikenakannya saat menaklukkan dunia.

Di saat pagi, saya terasa seperti orang paling melankolis di dunia. Inginnya hanya menangis di sela-sela sujud.

...kembali pada pertapaan saya.

Saya mulai lepas kendali, selalu aja ada yang membuat tubuh saya lalai mengontrol raga sendiri.
Kemarin saya sempat kecelakaan, beberapa saat yang lalu jatuh dari motor, beberapa kecelakaan kecil trus menghantui...
Terkadang saya mengandaikan, adakah malaikat yang mengintip dari jauh sana? Mengira-ngira saat yang tepat untuk memberikan tiket menonton dunia?

Sarap.

Ini  udah ngelantur, ngomongnya nakutin lagi. *nampar pipi*

Jujur, saya jadi sering banget ngaret. Ada dia yang selalu (bahkan mungkin sudah lelah sampai bosan) mengingatkan, menaruh harapan tinggi, memaksa, sampai melakukan berbagai cara untuk membuat saya kembali pada track yang benar, dan dia tidak pernah menyerah sedetik pun.
Seseorang yang menjadi panutan saya selama di kampus. Matahari kedua di siang hari.

...dan saya terlelap...

Sambil berharap untuk selalu diberikan mimpi yang menghibur dan kenyataan yang mengindahkan hati. Selamanya.

Selasa, Mei 08, 2012

Amazed

Beberapa hari ini saya menyadari akan adanya hal yang baru.


Setelah main game-game jaman dulu, mengulang kembali kejayaannya, menikmati tiap menitnya, melafalkan suara yang dikeluarkan tokoh-tokohnya dan melancarkan serangan dengan strategi yang biasanya, semua tampak begitu mudah.



Begitu biasa, begitu tidak menantang, begitu lurus tanpa belok-belokan.



Kemudian saya coba lagi dengan hal baru, dengan mencoba game dengan bentuk yang lumayan mirip, yang ceritanya masih beriringan dengan yang sudah saya hafalkan strateginya tersebut. Ketika suatu saat, ada yang menggelitik.


Sudah sekian belas jam saya memainkan game ini, tapi tetap tak mengalami perkembangan yang diinginkan. Saya terus merasa tertantang, bersemangat, merasakan mata yang kembali berbinar-binar bila ada sesuatu hal yang baru.
Padahal hanya satu yang dilakukan, melakukan hal diluar yang biasa.

Tadi pagi ini, semuanya kucoba demikian.

Sengaja tidur pada pagi hari (yang mana malah memimpikan hal yang bagi saya agak “menyeramkan”), sengaja meninggalkan flashdisk di meja, sengaja menghindari makan siang karena kesempitan waktu, sengaja mengambil nomor urut satu pada saat presentasi, memberanikan diri untuk mendebat hingga menyayangi dia berbelas-belas kali lipat dari biasanya.

Oiya, laptopnya habis rusak, sekalinya dibenerin, minta di-install ulang sekalian. Sekalinya diinstall ulang, eh, ganti penampilan. Jadi tambah ganteng deh tuh si laptop putih, walaupun agak overload. :D

Dan hasilnya mengejutkan.

A jolt of surprise striking my vein over and over!
Bagai kesetrum!

Hal ini pula yang kurasakan saat mencintaimu. ;)

Menebak-nebak apa yang mengganggu hatimu, menerbitkan tawa di bibir tipismu – yang secara langsung memicu senyumku, mengayunkan lenganmu dengan irama tertentu, menggamit tanganmu erat – yang kamudian kau lepaskan hingga mendengarkanmu.

I am constantly amazed by you. :x ;)

Without wax,
:D

P.s : Hei, padang bulan benar-benar membuat wajahmu merona ya?  :")

Selasa, Desember 06, 2011

Semalam

Terlalu simpel dilalui.

Kulalui sebuah lingkaran di depan kampusku. Sekali. Dua kali. Kali ketiga kuputari lingkaran itu, tanpa arah. Kemudian ada seseorang yang berteriak di samping jalan.

"Mas! Minggir!"

Suara itu begitu bising, kebapakan tapi belum bisa disebut tua. Menyegarkan tapi bukan segelas es jeruk.

Hal terakhir yang ku tahu adalah ketika sapaannya melepaskan jiwa yang mengontrol raga. Serasa diguyur air dingin langsung dari kulkas rumahan milik ibumu, tanpa kau perdulikan air yang mengalir, menjelaga ditangkupan tanganmu.

"Anda begitu beruntung, Mas", senyumnya terkembang. "Dirinya begitu indah, jangan dilukai ya."

Pertanyaanku mengembang lebih cepat dari yang kuinginkan, mataku melirik seseorang yang sedang duduk di belakangku, di boncengan. Kutemukan matahari di sana, di matanya yang berbinar-binar. Kepalanya ia sembunyikan pada tudung jaket abu-abu bercorak merah.

Kutiupi tangkupan tanganku sendiri. Mengisyaratkan ketidakmampuan otakku menerima segala hal begitu aneh, begitu cepat, begitu masif.

Namun begitu positif.

Bapak itu berlalu, meninggalkanku. Meninggalkan lampu kota yang mendadak temaram lalu menggelap. Meninggalkan diriku yang berkaca pada kesendirian, pada diam. Suasana yang tentram, dengan pekatnya kegelapan yang menjilat jalan aspal, kesunyian, kerapuhan dan bunyi weker.

Tunggu, bunyi weker?

Kubuka mata, kupukulkan diri pada kenyataan. Kulihat sesuatu yang meraung-raung. Kusentuh dia dengan lembut. Kupandangi tanganku yang memutih, kekurangan darah merah. 

"Aaaa, tertidur ternyata..."

Tidurku dalam posisi terduduk, memangku sebuah handphone bercorak merah-biru. Memangku sebuah harapan.
Ada tiga buah pesan singkat bertengger di sana, menunggu untuk dibuka.
Dari tiga orang yang sama dengan kata awal yang sama, namaku. :)

Senyumku merekah. Senyum yang biasanya terpicu oleh senyumnya.

Alhamdulillah, kupu-kupu di perutnya tak lagi berterbangan. Kupu-kupu itu membuatnya terduduk, terkunci dalam diam. Namun, ia tetap tertawa, ia menghiburku..

Mataku belum terbuka sepenuhnya, nyawaku masih belum menancap raga. Suatu hal yang kuyakini pagi itu adalah...

Ia begitu mengkhawatirkanku, sebagaimana aku mengkhawatirkannya.

:D

Senin, November 14, 2011

Teriak!

UTS udah seleseeeeeee......!

#bukannya dari kemaren, Ndik?

Iyasih, telat emang, tapi entah kenapa, semangat UTS kayak masih ngganjel, masih pengen balas dendam sama Dasar-Dasar Manajemen, gara-gara yang diharapkan tidak selaras dengan kenyataan (kalo di kuliahnya sendiri, keadaan kayak gitu dinamain "masalah", ada kegalauan diantara hal yang ada dan impiannya, emang, emang harus ada galau di situ..dosennya yang galau..muahahah  :D ), masih kelewat seneng sama soal-soal yang kimia yang menantang, yang bikin nervous bangeeeeettt gara-gara kepikiran pernyataannya Pak Utoro (dosennya) yang bilang, "Kalau ada sebuah pernyataan yang tidak menjawab pertanyaan saya, tidak akan saya nilai!"

Euh! Masih merinding euy!

Dan seketika itu pula semuanya bergemuruh, ada teriakan anak muda yang melolong di tengah timbunan persamaan gas punya Pak Utoro...

...oke, ternyata malah lebay jadinya.

Salah satu efek samping UTS adalah dampaknya buat kamar. Hampir selama tiga minggu, kamarku kayak....kapal pecah.

Kapal pecah, ketabrak truk, keangkut pesawat, terjun payung, ketancep piramid, ketendang sphinx, terjerumus air terjun Niagara, dirubung semut, dibanting sama pegulat, kena banjir bandang, keserempet motor, kelewatan pawai, kerubuhan gajah, kena angin topan dan terakhir buat belajar UTS sama orang paling semrawut sepanjang masa.
Ya jadi gini deh.
Tempat kejadian perkara
Salah satu tersangka
Udah kayak sarang laba-laba


Oiya, belum lama ini Hari Pahlawan, sebuah hari yang membuat kita mengenang atau setidaknya mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keselamatan, terhindar dari kekurangan dan dimuliakan di mata Allah SWT.
:D

Tanggal 10, pagi hari, matahari baru panas-panasnya menyengat kulit, tega ya matahari tuh? Aku mampir di rumah temen ibuk di daerah Pathuk, beliin pesenan temen, buat oleh-oleh pas mudik katanya. Seketika itu, liat kejadian. Liat anak-anak kecil lari-lari, kear-kejaran.

Ternyata mereka main perang-perangan.

"dor!" "dor!" "DUORR!", yang pake baju merah putih nembak gitu.

"dreddreddreddrederedererererererrrdedredrdrerd" ---> ini suara tembakan apa orang keselek biji salak, Dik?
temennya yang pake baju ala tentara amrik nembak jugak.

Eh, yang baju merah-putih protes, "Kok kamu gak mati?"
"Aku kan pasukan khusus, elit, kamu kan cuma tentara biasa, ya aku gak mati lah!"
"Kok gitu, ya kamu harus mati dong, jujur kalo mainnn...!"

Wueh, anak kecil segitu tau tentang kejujuran? Hebat bener pendidikannya.

"Emang kamu punya senjata apa? Kok aku bisa mati?", tanya yang pake baju amrik.
"ROKET PANCASILAAA!! DUERR!", jawab yang pake baju merah-putih.

Eh?

Umur segitu tahu bisa bangga sama Pancasila?

Sementara aku yang segede gaban gini, yang tiap hari senin pagi dikuliahi Pendidikan Pancasila cuma bisa teriak-teriak atas nama kelima sila-nya ketika saya melakukan sesuatu yang benar, tapi ditentang.

Calon pemimpin itu emang terdidik dengan cara yang spesial ya?

:D

Sabtu, Oktober 08, 2011

Keseleo

hello folks!

Udah hampir dua mingguan lebih gak megang ini tuts. Tanganku masih keder kalo pegang bolpoin, dari rabu sampe kamis pagi kemaren ngebut buat nulis praktikum biologi. Nulis praktikum biologi itu kayak nulis surat cinta, sob. Yang kalo tiap kali kita salah nulisnya, harus masuk tempat sampah dipojokan kamar.

Bedanya kalo surat cinta butuh feel buat nulis, butuh rasa, butuh cinta. Kalo praktikum, boro-boro cinta, gombal dikit aja mungkin udah dicoret. 

Pokoknya ini laporan praktikum harus pake "tata bahasa indonesia yang baik, benar dan sistematis". Kalo akhir kalimat ya dikasih titik, bukan dikasih upil. Kalo mau bikin klausa penyambung informasi antara satu kalimat dengan lainnya ya harus dipakein kata hubung. Tulisannya pun harus bisa dibaca dan GEDE-GEDE (sori, sob, emang biar berasa, gua nulisnya gede gitu).

Oke, Jum'at kemaren emang jadi medan perang buat para penggembira praktikum.
Temen-temen pada ngapalin buku panduan praktikum, ada yang komat-kamit, ada yang diem tapi matanya muter-muter lirik-lirik ke sana ke mari, ada yang makan, ada yang bingung, terakhir ada yang bengong ngeliatin akhwat.

jangan ditanya, yang bengong itu pasti gua.  :3
jangan ditanyain akhwatnya siapa, ntar dia nengok.  :D
#digaplok

Pintu praktikum dibuka, dengan bermodalkan jas putih ala anak kedokteran kita ngantri d depan pintu, nunggu dipanggil sama asistennya (jadi inget, kayaknya ada yang ngajakin foto pake jas lab di bawah tulisan Fakultas Kedokteran, siapa ya? #wondering).

Oke, setelah masuk, kita pre-test.
Ada sekitar 8 jawaban yang gua gak yakin. Astaghhfirullah. mungkin gara-gara gua dicuci otak lupa belajar waktu nganter temen gua, Ferli, sidang di pengadilan Yogyakarta.
Kalo gak salah, "reaksi apa saja yang terjadi pada fotosintesis" sama "sebutkan tiga hasil dari respirasi".
Dodolnya gua jawab reaksi terang sama reaksi gelap. Secara masih "SMA-minded", gua kira gak belajar aja masih bisa dikejar lah. Ternyata jawabannya salah.
#nangisdarah

Oke, habis menyesali pre-test, langsung percobaan. Kelompok satu (punyaku) langsung dapet percobaan "Mengamati Laju Fotosintesis Hydrilla verticillata".

Kenapa Hydrilla yang dipake? Soalnya kalo tanaman air kan gampang pengamatannya (cuma liatin oksigen terlarut di dalem tabung reaksi doang). Sebetulnya pohon mangga bisa, tapi susah.
Woke, percobaan pertama!
Gua jadi bubble-counter a.k.a tukang ngitungin gelembung.
Noni sama Hans jadi time-keeper.
Asti jadi notulen.
Dodolnya, gelembung yang keluar kecil-kecil, banyaaaaaaaak banget. ASEM!
Tanganku hampir keseleo.

15 menit berlalu, gelembung yang bisa keitung (gak tau deh kelewatan ato kebanyakan) mencapai 3580-an gelembung.

Gua bersyukur, bisa istirahat. Kalo dideket situ ada abang-abang tukang urut, udah gua booking kali.

Senin, September 26, 2011

Abu-Abu Ketilang


     Udah lama gak posting euy, entah kenapa aku bisa kangen sama nih tulisan. Mungkin karena sekarang udah punya temen buat berlomba-lomba nulis bareng. Enak punya temen yang mau usaha ngungkapin isi kepala yang biasanya diumpetin di dalem tudung jaket (kalo dia mah, emang kerudungan beneran).

Sekarang waktunya sibuk PKM. Apa sih itu PKM?

Semacam LKIR buat mahasiswa, dimana semua orang berlomba mengeluarkan impian paling rasional yang mereka punya demi pemberdayaan barang yang masih layak guna hingga jasa.

Kalo yang beginian, mah, belum pernah kecemplung dari waktu SMA. Pol mentok waktu sama Reno dulu, yang buat semacam kewirausahaan kecil-kecilan, (temaku kemaren sih Pengelolaan Bank Sampah Lingkup Daerah) tapi harus kandas di tengah jalan. Alesannya sih gampang, kagak menang doang.  :p

Oiya, update kota. Update kehidupanku selama seminggu ini.

Temenku yang paling ganteng (Kenapa ganteng? Soalnya punya mobil pribadi… #bercanda  :D) kemaren ketilang. Mobilnya si Ferli ini berhenti di lajur kiri. Bukannya “kiri jalan terus”, tapi “ambil kiri, terus diem”. Terang aja ditilang. Tapi dodolnya gua, kagak nyadar kalo kita baru berhenti di lajur kiri dengan riang gembira. 

...terang aja, kukira kita naik motor.

Kan kalo motor mah, diem di lajur kiri, asal mobil bisa lewat, kagak kenapa-napa. Lha ini mobil abu-abu segede gaban, nutupin jalan. Ya jelas diprotes lah.

Abis itu, si Ferli sedikit frustasi, dia langsung ngajakin temen-temen semobil makan di A&W.

Kalo gini, sering-sering ngambek yak?
#ditendang

Minggu, Agustus 08, 2010

Padang Bulan dari Semburat Maghrib

Semua orang bilang padaku bahwa yang namanya jatuh cinta selalu indah.

Seindah sebuah berita dimana kau akan masuk ke dalam sebuah koran terkenal seantero jagad atau kau memenangkan sebuah mobil dua belas kali berturut-turut.
Seindah asa yang kau minta bila telah terjawab.
Seindah ukiran yang tiap pengukir usaha tuk buat dalam karyanya.
Seindah usaha yang kau buat untuk tersenyum meskipun semua ucapkanku tak kau mengerti dan tak lucu.
Seindah sesuatu di pelupuk matamu, yang berlinang jatuh saat kau ingat hujan di tanggal ganjil itu.
Seindah tawa yang semua orang lakukan di depanmu ketika kau bersedih.

Namun menurutku, hal itu hanya cukup membuatmu saja yang tergerak.
Bagiku, obrolan itu hanya ucapan anak-anak yang tak lebih dari omong kosong yang jujur.
Yang menerbangkan tiap kupu-kupu kecil di otak mereka ke angkasa, lalu menembus awan untuk kemudian melayang-layang.

Yang kutahu, yang selalu ingin kutahu dan seharusnya sudah kutahu pada pucuk air mata milikmu
Adalah padang bulan malam ini. Padang bulan yang mengirimmu melangkahkan kaki mungilmu.

Matamu terkadang menunduk malu, berkedip tanda tergetar hatimu untuk mencari tahu, rahasia alam apalagi yang akan kuungkapkan padamu dibalik misteri ini, karena yang paling kusuka adalah saat kau berdecak kagum, baik itu dibuat-buat maupun bukan, karena yang kutahu, saat kau tersenyum – senyum apapun itu – kau akan berubah menjadi merah. Semerah coretan matahari pada dentang sore, semerah semburat mega di langit biru dalam transpos hari ini, semerah…..tomat itu.

Sekarang aku menunggumu, menunggu dalam indah hati, dalam riang halus lembut tanpa mencoba berdosa karena pengharapanku melebihi buaianku. Semburat mega masih tersisa, kutunggu kau sembari duduk diantara pelukan biru langit malam yang mulai menghantui sosokku. Aku timbul tenggelam. Timbul saat sesosok wanita datang menghampiri. Terlihat putih, terlihat kilaunya. Sangat putih, sangat bersih. Serba menunjuk kalau itu kau.

Dan aku tenggelam kembali.

Ketika sosok wanita yang tak sengaja kuamati lekat dari kejuahan itu bukan lagi kau. Hanya imaginasi dari visi yang membuatnya menjadi kau. Menjadi sosok bidadari dengan kekuatan manusia miliknya. Menjadi seutuhnya kamu. Dengan senyum malu-malu yang sedikit menampakan sederet pasukan putih dalam lingkup peluk bibir tipismu yang indah. Tak enggan kuteliti lagi wajahmu dan aku menemukan keajaiban dunia nomor tujuh. Kemerahan dalam – atau luar ? – pipmu yang menenggelamkan aku dalam sebuah dimensi baru yang tersemburat dari dalam lekuk wajahmu.

Dimensi itu mencekatku, membuatku menggelinjang seketika, menamparku bolak-balik, menjungkirbalikkan nyawa yang hanya setengah sampai di tubuhku. Segera kusadar, bahwa maghrib itu aku terbawa kedalam dimensi lain yang membuatku hampir melayang ke dalam konstelasi zodiak planet lain. Aku galau.

Semua karena sosokmu yang…tiba-tiba terlihat nyata. Karena dengan tiba-tiba pula datang kehadapnku. Mencuri kembali hatiku. Dan seraya berkata, sebuah perkataan yang memuncakkan doa keselamatan abad ini, “Assalamu’alaikum, Andika…”

kau adalah La Niege au Sahara.

Tiba-tiba aku refleks menyubit paha yang kusembunyikan dibalik sarung ini.

Aku terbelalak kembali ke dunia.

Semuanya nyata. Itu dirimu yang kembali ke dunia.

Kukejar kau kedalam masjid. Kuceritakan tentang kau kembali pada jagad raya, nanti.