Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 03, 2014

EarChestra Sepulangnya

Setelah lama tidak menyapa dan menyalakan lentera dari blog yang hampir mati ini, kucoba menyiram pandanganku agar meresap ke segala arah, segala penjuru. Tidak, hal ini tidak ada hubungannya dengan gemuruh di dunia luar jiwa yang mendesak dan memaksa untuk meledak. Kenapa kuputuskan untuk tidak berhubungan? Karena ledakannya mengancam jiwa, menghancurkan cermin dan topeng yang kubuat selama ini. Lentera ini menerangi semua, menyeruakkan bebauan yang kuanggap teman pada beberapa tahun yang lalu. 
 
Api dari lentera menyambar ke atas kepala, menari tanpa membakar rambutku sendiri, lalu menyalak keras ke sebuah sudut. Bukannya panas yang kurasa, namun jilatan yang terus saja merayap lambat. Jilatan itu terasa sedikit sendu, sedikit kelabu. Benar saja, sejenak jilatan ini telah memakan bulat-bulat sebuah benda yang kusimpan erat dalam koper. Koper yang kombinasinya saja mungkin sudah kulupa. Koper yang usang, yang berbulu warna beludru. Yang jika kau ketukkan kemoceng melewati sepertiga mili diatasnya akan beterbangan debu-debu kenangan bak kunang-kunang yang terusik. Bagai kawanan ikan barakuda, debu kenangan menutupi pandangan sejenak, lalu terhunus api.

Api ini terus menyalak kencang, ia hangat namun bergumuruh. Cukup mengganggu dan menggetarkan ruangan ini, pikirku. Sesaat berikutnya, tepat ketika ingin kucuba melemparkan diriku ke dalamnya, api ini padam seketika dan menyisakan sebuah permen. Permen gulas, permen yang asam dan manisnya bergumul di lidah bak pemain gulat amatiran. Berderu kesana kemari tanpa arah, hingga akhirnya menjinak. Berubah menjadi dua kucing jinak. Saling menggoda satu sama lain, berguling sesaat, diam. Terus saja begitu hingga rasa ini berubah kelam, tak berbekas.
Api ini menyisakan sebuah senyawa, yang tidak stabil, yang memaksakan diri menyeruak ke telinga. Menembus segala macam batas duniawi, surgawi, hingga virtual yang cukup tidak awam buatku. Seberapa menyebalkan rasa ini, kautanya? Semenyebalkan cengkeh yang menghiasi kue-kue nastar tanpa dosa, menyembunyikan duri yang kejam dalam balutan legit dan renyahnya campuran tepung, keju, dan selai nanas.

Kuambil napas sebentar. Kusesap ludah di lidahku hingga kembali ke alam nyata.

Kudapati ragaku ada di atas kasur warna merah, berbau kusam, bernafaskan debu, lengkap dengan jaket dan segala macam perangkat perang yang biasa kubawa ketempat kuliah. Mataku nanar memperhatikan sekeliling, layaknya penari Bali yang mengincar wisatawan yang tidak terpukau akan gerakannya. Bola mata ini mencari bagai tiada tempat berlabuh, mencari tanpa tahu apa yang akan dicari, bernapas tanpa yakin meresap udara, mencecap tanpa yakin ada rasa, berdegup tanpa yakin memompa darah, menapak tanpa pengetahuan akan daratan.

Apa yang sedari tadi akan kulakukan?

Kuamati handphone tanpa lekuk, berbaring lemah dan berkedip, menggonggong minta diberi makan. Kulitnya yang gelap namun licin melambangkan keangkuhannya untuk selalu dibelai, diurus, dipaksa update status dan berkicau di dunia virtual.
Tampak di sana ada beberapa kata dari pujaan, yang mengisi relung hati tanpa sisa. Kuikuti apa kemauannya, demi segala apa yang baik untuknya. Kudoakan agar lancar.

Setelah itu, mata ini menerkam mp3 cap sambel yang suaranya cukup sember, yang kupaksa kupegang telaknya, menyanyikan beberapa macam lagu yang ingin kusuka. Namun hari ini, ternyata lain. Jempol bergerak tanpa irama, beberapa tulisan di layar ia pencet sesuka, lalu muncul sederet lagu. Eksekusi dilakukan tak sampai lima hitungan anak PAUD untuk memulai sebuah alunan lagu pertama. Telingaku tidak mendengar ucapan komandannya, ia membuka gerbang pertahanannya dan memasukkan sederatan suara ke dalam kepala.

Suaraku meronta menggema di dalam sukmaku sendiri. Aku diperbudak diriku. Dan lagu mulai bergulir tanpa dapat dihentikan kembali.

EarChestra pertama berdengung menghujam gendam telinga, The Wanted – Walks Like Rihanna. Seperti orkestra yang pertama, beberapa bayangan langsung mencuat keluar dari otak.

Adalah seorang wanita yang muncul pertama, yang sebenarnya biasanya saja, yang ternyata memikat dengan segala rupa dan segala rasa. Kemudian bayangan bergerak ke seorang pria, ia lusuh, dekil, berdebu, dan hanya mampu melihat wanita ini bergerak. Hingga akhirnya berita menyebar bahwa wanita ini berhasil menarik jiwa-jiwa lelaki di sekelilingnya. Pria ini tak bisa memungkiri jika ia tertarik, ia akan lakukan apa saja untuk bergerak mendekati wanita ini. Apa saja.

Apalah bukti ia tertarik? Ada rasa tak tentu yang pria ini rasakan jika wanita tersebut ada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya. Ada degupan dihatinya yang tak bisa ia bendung, bagaikan letusan kembang api yang terjadi di setiap malam tahun baru, atau pembukaan suatu acara perlombaan agung, bertubi-tubi dan berkali-kali.

Ketika bayangan ini menari-nari, EarChestra kedua menggelinding, mengantam bayangan tersebut. Dimulailah lagu kedua, Pink - True Love (ft. Lily Allen).

Bayangan ini meloncat kembali menggambarkan kedua figur pria dan wanita. Sang wanita berdengung tidak jelas, menuntut, memaksa, menagih, mencaci, meludahkan hingga memuntahkan berbagai macam kata beracun yang hampir seluruhnya menjadi racun. Memakan setiap bagian dirinya sendiri dan lelaki tersebut. Pria tersebut melindungi dirinya dengan menutup telinga, mirip seorang anak kecil yang takut akan kilat dan suaranya yang bergemuruh. 
 
Pemandangan ini memuakkanku, meski kucoba memejamkan mata dan mengerjap berkali-kali, hal ini tidak menghilang begitu saja. Hanya gumaman dari lelaki ini yang terlihat jelas, membuka dan menutup mulutnya dengan cepat, entah ingin berkata atau bergidik ketakutan. Sekejap firasat muncul dalam benak pria ini, untuk membalas, untuk menghimpun tenaga yang ada dan sekejap mata mengembalikan semuanya dalam satu kilatan tamparan penuh energi kepada wanita ini.
 
Namun, hanya wanita ini yang menekannya begitu keras. Hanya wanita ini yang mengacaukan segala macam sistem yang pria ini buat dan membuatnya macam komedi putar di arena bermain anak-anak di suatu sudut mall di kota. Hidup pria ini akan menjadi kelabu tanpa wanita ini. Pikirnya.
 
Tiada orang lain, selain wanita ini yang memaksa seluruh impuls di otak untuk menggerakkan dua batang tangan miliknya hingga melingkari, memeluk, tubuh sang wanita. Di saat dan waktu yang sama pula, terdapat impuls yang menggelitik dengan geli untuk menggerakkan kedua bilah tangan tersebut, melingkar pula, namun ke batang leher si wanita.
 
Menyebalkan!
 
Ungkap pria ini, namun tidak bisa ia pungkiri bahwa terdapat semburat cinta diantara pipinya yang bersemu merah.
 
Ia menyadari bahwa dirinya sungguh-sungguh mencintai dan membenci wanita ini secara adil, dan entah ada iklim apa yang memutar balikkan seluruh logika di dalam sel-sel kehidupannya, pria ini menjadi berpikir bahwa wanita ini adalah orangnya. Seseorang yang nantinya akan diajaknya berdua berjalan di altar pernikahan. Yang akan mengiringi tiap hembusan nafas hingga salah satunya berhenti, atau tersedak tutup botol sambal, yang manapun yang duluan. Pria ini berkali-kali menanyakan kewarasan dirinya, "Kenapa aku masih bertahan?" atau "Kemana aku harus pergi?" tanpa tahu arah dan tujuan lain, hanya karena ia cuma mengenal dan memahami wanita ini.
 
Yang manapun ia yakin, bahwa wanita ini adalah seseorang yang ia tunggu lama. Seseorang yang memang muncul sekali dalam kehidupan untuk membersamainya. Seseorang yang meski ia benci setengah mati dan ia sayangi setengah hidup, wanita ini adalah cinta sejatinya. Karena tiada hal lain dan orang lain yang dapat melukai hatinya, separah dan sekejam cinta sejati.
Diakhir bayangan, pria ini mengajarkan kepada tersebut, perlahan-lahan. Bagai seorang guru yang dengan sabar menuntun muridnya untuk mengeja sebuah kata, ia mengenalkan sebuah kata paling ampuh, obat dari segala kata beracun yang ia muntahkan di awal, yaitu romansa.
 
Lalu tetiba saja sendu. Mataku yang mengerjap ternyata menangkap kedipan kode tertentu. Sebuah tanda bahwa mp3 merek sambal ini mengkhianati tuannya. Ia bergerak perlahan menuju nirwana pada nyawanya yang kesekian.
 
Menuntut isi nyawa kembali, pikirku.
 
Kututup EarChestra ini dengan doa. Doa yang kupanjatkan agar dirimu...
 
...yaaaa, kau tahulah.
:D

Sabtu, Oktober 08, 2011

Kala Cinta Menggoda

 Postingan galau malem-malem.
menghibur diri gara-gara mendung geblek yang nutupin langitnya.

--a

Andai ia tahu...  (blush)
========================================================================
Sejak jumpa kita pertama
kulangsung jatuh cinta

Walau kutahu kau ada pemiliknya

Tapi kutak dapat membohongi hati nurani
Kutak dapat menghindari gejolak cinta ini

Reff.
Maka ijinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkan aku sekedar sayang padamu 

Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta

Apalagi aku juga ada pemiliknya 

Tapi kutak dapat membohongi hati nurani
Kutak dapat menghindari gejolak cinta ini

Maka maafkan jikaku mencintaimu
Atau biarkan kumengharap kau sayang padaku

Sabtu, Juni 04, 2011

Topeng? Bukan ah.

Mungkin udah kelamaan gak ditulisin yak, ini Blog. Sampai kalo mau nulis, harus dirayu-rayu dulu. Udah lupa sama tuannya kali.
Saya baru saja pulang dari rapat. Iya, sebuah rapat wirausaha yang seharusnya hari Senin besok sudah survey, bertemu dengan para setan cilik yang kami biasanya sebut murid TK dan SD. Yang biasanya berlompatan di halaman, sambil tereak-tereak dengan lucunya. Yang mungkin ada salah satu diantaranya yang namanya Zafa. Oh, bicara soal Zafa, jadi inget Pak Dokter yang lama gak keliatan, mungkin disimpen sama Bu Dokter di lemari, gak boleh dikeluarin. Takut di embat sama anak orang.
Ouch, a lovey dovey passion.
Saya jadi inget sebuah janji yang saya ucapkan ketika SMP dengan seorang akhwat, tapi sayangnya janjinya lupa-lupa inget, ingatan ini eror mulu sih.
Mungkin kita gak bisa satu sekolah lagi, dimana aku bisa ngeliatin kamu dari jendela kelasku yang guede, tapi setidaknya, handphone memberi kita ruang baru untuk bicara kan? Bisa aja aku njemput kamu dari rumahmu ke sekolahmu, baru lanjut ke sekolahku…”
Tapi dianya malah nangis, Udah to, An…nggak usah dipaksain, udah yaa…”
And the phone was never rang, again.
Jadi saya belum lama ini ngajak ketemu, setelah beberapa hari sebelumnya, di sms, dibalesin juga. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang beneran ngganjel.
Kerasa ngganjel, karena saya jadi inget bapak.
Bapak itu dulu (katanya) punya temen cewekingat, cewek lho yak, bukan akhwatbanyak, beliau berkelana dari kenalan yang satu dan lainnya. Sampai akhirnya kepincut sama ibuku, yang waktu itu lagi jagain dagangan di rumah.
World resolved in a weird way. It turns out to be awfully shocking.
Jadi dalam lamunan saya (karena beberapa hari ini kerjaannya belum ada, selain mikirin program-program buat lomba CSL bareng reno, ikka, yuvi, dimas, yazrah sama nizsa, saya kebanyakan ngelamun) malah kepikiran tantangan waktu kuliah besok, maksudku, jodoh udah ada yang ngatur kan?
Jadilah saya agak menjauh, membiarkan dia seneng-seneng dulu deh, toh, jalan hidup kami SMA juga gak jauh beda, pernah disukai, juga beberapa kali menyukai. Meski cinta tak bisa terjadi secepat ngupil, tapi yaaada kemungkinan buat terjadi. Witing tresno jalaran saka kulino.
Semakin kita membiasakan diri untuk menempatkan seseorang di dalam hati, mencoba bertanya dalam pesan singkat (tapi masih ragu-ragu), mengutuk diri karena kalah cepat dengan teman sendiri, menganggap cerita teman sebagai referensi, hingga menggalau di sajadah kumal atau masjid sekolah, dalam doa, hingga malaikat selalu komplain pada Tuhan.
“Ya Allah, isinya hati orang ini selain galau apa sih?”
Karena pacaran pada dasarnya bukan untuk menyakiti hati orang lain. Dan saya sendiri masih kurang peka. Yaa, takut-takut aja, toh selama ini hidup saya kayak jalan di trampolin. Kadang melonjak, lalu hilang tiba-tiba. Tapi kan, tetep, yang lompat-lompat selalu gembira, bukan? :D
Sampai ada seseorang yang kebingungannya memuncak, mendekati saya lalu mengeluarkan statement, “Ndik, kok kowe biasa wae sih? Kan koe sakajane sedih?”
Opo gunane sedih? Toh hidup cuma sekali, sedih ki mung menghilangkan waktu produktif. Soale gak ada untungnya
Karena sedih itu pasti memaksa tubuh untuk jatuh, untuk terdiam. Dan karena diam terkadang mematikan. Saya memilih untuk menghibur diri saya sendiri, agar orang lain bisa saya hibur.
Sampai suatu siang, ada yang teriak, “Kok jalanmu aneh sih? Lompat-lompat gitu?”
:D

Ibaratnya, riasan muka badut, pasti orang tersenyum. Jarang ada riasan badut kok mewek. Nanti gak laku, dong.


Setelah lama tak mengecupkan tangan ke keyboard,
Yogyakarta, 4 Juni 2011