Api ini terus menyalak kencang, ia hangat namun bergumuruh. Cukup mengganggu dan menggetarkan ruangan ini, pikirku. Sesaat berikutnya, tepat ketika ingin kucuba melemparkan diriku ke dalamnya, api ini padam seketika dan menyisakan sebuah permen. Permen gulas, permen yang asam dan manisnya bergumul di lidah bak pemain gulat amatiran. Berderu kesana kemari tanpa arah, hingga akhirnya menjinak. Berubah menjadi dua kucing jinak. Saling menggoda satu sama lain, berguling sesaat, diam. Terus saja begitu hingga rasa ini berubah kelam, tak berbekas.
Api ini menyisakan sebuah senyawa, yang tidak stabil, yang memaksakan diri menyeruak ke telinga. Menembus segala macam batas duniawi, surgawi, hingga virtual yang cukup tidak awam buatku. Seberapa menyebalkan rasa ini, kautanya? Semenyebalkan cengkeh yang menghiasi kue-kue nastar tanpa dosa, menyembunyikan duri yang kejam dalam balutan legit dan renyahnya campuran tepung, keju, dan selai nanas.
Kuambil napas sebentar. Kusesap ludah di lidahku hingga kembali ke alam nyata.
Kudapati ragaku ada di atas kasur warna merah, berbau kusam, bernafaskan debu, lengkap dengan jaket dan segala macam perangkat perang yang biasa kubawa ketempat kuliah. Mataku nanar memperhatikan sekeliling, layaknya penari Bali yang mengincar wisatawan yang tidak terpukau akan gerakannya. Bola mata ini mencari bagai tiada tempat berlabuh, mencari tanpa tahu apa yang akan dicari, bernapas tanpa yakin meresap udara, mencecap tanpa yakin ada rasa, berdegup tanpa yakin memompa darah, menapak tanpa pengetahuan akan daratan.
Apa yang sedari tadi akan kulakukan?
Kuamati handphone tanpa lekuk, berbaring lemah dan berkedip, menggonggong minta diberi makan. Kulitnya yang gelap namun licin melambangkan keangkuhannya untuk selalu dibelai, diurus, dipaksa update status dan berkicau di dunia virtual.
Tampak di sana ada beberapa kata dari pujaan, yang mengisi relung hati tanpa sisa. Kuikuti apa kemauannya, demi segala apa yang baik untuknya. Kudoakan agar lancar.
Setelah itu, mata ini menerkam mp3 cap sambel yang suaranya cukup sember, yang kupaksa kupegang telaknya, menyanyikan beberapa macam lagu yang ingin kusuka. Namun hari ini, ternyata lain. Jempol bergerak tanpa irama, beberapa tulisan di layar ia pencet sesuka, lalu muncul sederet lagu. Eksekusi dilakukan tak sampai lima hitungan anak PAUD untuk memulai sebuah alunan lagu pertama. Telingaku tidak mendengar ucapan komandannya, ia membuka gerbang pertahanannya dan memasukkan sederatan suara ke dalam kepala.
Suaraku meronta menggema di dalam sukmaku sendiri. Aku diperbudak diriku. Dan lagu mulai bergulir tanpa dapat dihentikan kembali.
EarChestra pertama berdengung menghujam gendam telinga, The Wanted – Walks Like Rihanna. Seperti orkestra yang pertama, beberapa bayangan langsung mencuat keluar dari otak.
Adalah seorang wanita yang muncul pertama, yang sebenarnya biasanya saja, yang ternyata memikat dengan segala rupa dan segala rasa. Kemudian bayangan bergerak ke seorang pria, ia lusuh, dekil, berdebu, dan hanya mampu melihat wanita ini bergerak. Hingga akhirnya berita menyebar bahwa wanita ini berhasil menarik jiwa-jiwa lelaki di sekelilingnya. Pria ini tak bisa memungkiri jika ia tertarik, ia akan lakukan apa saja untuk bergerak mendekati wanita ini. Apa saja.
Apalah bukti ia tertarik? Ada rasa tak tentu yang pria ini rasakan jika wanita tersebut ada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya. Ada degupan dihatinya yang tak bisa ia bendung, bagaikan letusan kembang api yang terjadi di setiap malam tahun baru, atau pembukaan suatu acara perlombaan agung, bertubi-tubi dan berkali-kali.
Ketika bayangan ini menari-nari, EarChestra kedua menggelinding, mengantam bayangan tersebut. Dimulailah lagu kedua, Pink - True Love (ft. Lily Allen).
Bayangan ini meloncat kembali menggambarkan kedua figur pria dan wanita. Sang wanita berdengung tidak jelas, menuntut, memaksa, menagih, mencaci, meludahkan hingga memuntahkan berbagai macam kata beracun yang hampir seluruhnya menjadi racun. Memakan setiap bagian dirinya sendiri dan lelaki tersebut. Pria tersebut melindungi dirinya dengan menutup telinga, mirip seorang anak kecil yang takut akan kilat dan suaranya yang bergemuruh.